Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Friday, October 14, 2016

PEMBAGIAN HARTA RAMPASAN PERANG DALAM KITAB AL-KHARAJ KARANGAN ABU YUSUF

BAB PEMBAGIAN HARTA RAMPASAN PERANG

Abu Yusuf mengatakan: Adapun apa yang anda tanyakan wahai Amirul Mukminin tentang pembagian harta rampasan perang,  ketika ditinggalkan oleh musuh dan bagaimana membaginya, Allah SWT telah memberikan penjelasan tentang hal itu sebagaimana tercantum dalam kitab suciNya, dan Dia berfirman sebagaimana disampaikan kepada Rasul-Nya SAW (Dan ketahuilah bahwa engkau telah mendapatkan sesuatu dari harta rampasan perang, sesungguhnya Allah telah membaginya untuk Rasul, kerabat dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, jika kamu beriman kepada Allah dan apa yang telah Kami turunkan kepada hamba kami pada hari kedua pasukan bertemu  dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). Allah lebih mengetahui apa yang menimpa kaum muslimin dari pengaruh kaum musyrik, mereka tidak membawa barang berharga dan  senjata dalam pembagian tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Allah Azza wa jalla dalam kitabNya yang bijaksana, dan empat-perlima dari para prajurit yang terluka, itu adalah orang-orang dari Biro dan lain-lain,  sedangkan kesatria/pejuang mendapat  tiga bagian.: dua bagian untuk kudanya, dan satu bagian untuk dirinya, dan untuk tentara yang berjalan kaki mendapatkan satu bagian seperti yang disebutkan dalam hadis-hadis Nabi dan atsar, dan tidak membagikan untuk kuda yang satu atas yang lain, sebagaimana disebutkan dalam kitabNya (untuk kuda,  unta dan keledai untuk kamu tunggai sebagai hiasan) dan Allah berfirman (dan bersiap-siaplah untuk mereka sekuat tenagamu dan siapkanlah ikatan kuda untuk menghadapi musuh Allah dan musuhmu) dan orang Arab mengatakan tentang kuda ini, dan  mempekerjakan kuda tidak berarti bahwa kuda itu milik umat dan pada umumnya lebih kuat dari kebanyakan kuda dan lebih menyenangkan untuk penunggangnya dan  tidak menganggap mereka sesuatu tanpa sesuatu dan  tidak mengutamakan kuda yang kuat atas kuda yang lemah atau tidak mengutamakan seorang pemberani yang sempurna membawa senjata atas seorang pengecut yang tidak membawa senjata kecuali pedangnya.
Abu Yusuf mengatakan: telah menceritakan kepada kami Hassan bin Ali bin Hakam bin Imara dari Hakim bin ‘Uthaibah dari Muqsam dari Abdullah bin Abbas, ra berkata bahwa Rasulullah SAW membagikan harta rampasan perang Badar: dua bagian untuk penunggang kuda dan satu bagian untuk pejalan kaki.

Dia berkata: telah mengatakan kepada kami Qais bin Rabi’ bin Muhammad Bin Ali Ishaq bin Abdullah dari Abu Hazim berkata: Diriwayatkan Abu Dzar al-Ghafari r.a berkata: engkau melihat saya dan saudara saya bersama Rasulullah SAW pada perang Hunain, dan bersama kami dua kuda milik kami, dan Rasulullah SAW membagikan untuk kami  enam bagian, empat bagian untuk kuda kami dan dua bagian untuk kami dan  kami menjual enam bagian pada perang Hunain kepada Abu Bakar.
Abu Yusuf mengatakan, menurut ahli Fiqih Abu Hanifah R.A berkata: untuk pejalan kaki satu bagian, dan penunggang kuda satu bagian. Dia mengatakan: tidak ada keutamaan bagi binatang atas seorang Muslim. Dia membutuhkan pendapat dari Zakariya bin al-Harits dari Mundzir Abi Khamash al-Hamdani bahwa mereka bekerja untuk Umar bin Khathab R.A dibagikan untuk penunggang kuda satu bagian dan pejalan kaki satu bagian, dan mengusulkan hal itu kepada Umar RA dan iapun mengabulkannya dan memberikan kepadanya, sedangkan Abu Hanifah mengambil hadis ini dan memberikan untuk penunggang kuda satu  bagian dan pejalan kaki satu bagian, dan apa yang datang dari hadis-hadis dan atsar bahwa untuk penunggang kuda mendapat dua bagian, dan pejalan kaki satu bagian lebih banyak dari itu dan masyarakat setuju akan hal itu, dan bukan dari segi keutamaan walaupun dari segi keutamaan, tetap wajib bagi penunggang kuda satu bagian dan pejalan kaki satu bagian karena telah sesuai dengan aturan bagi kaum muslim, bahwa bagian untuk seorang laki-laki lebih banyak dari yang lain, agar manusia senang untuk berjihad di jalan Allah. Apakah kita tidak melihat bahwa bagian untuk penunggang kuda dikembalikan kepada pemilik kuda dan tidak untuk kudanya, sedangkan pejuang dan para pejabat dalam pembagian sama. Maka ambillah wahai Amir Mukminin salah satu dari dua hadis yang engkau lihat, dan apa yang kami lihat bahwa hal itu yang terbaik bagi kaum Muslimin, yang demikian itu diperluaskan bagi kamu, jika Allah menghendaki, dan saya tidak melihat pembagian untuk pejalan kaki lebih banyak dari para penunggang kuda.
            Dia mengatakan: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Said al-Hassan bahwa seorang laki-laki dalam peperangan dengan menunggang kuda. Dia berkata: tidak membagi untuknya dari harta rampasan perang lebih banyak dari dua bagian.
Dia mengatakan: telah mengatakan kepada kami Muhammad bin  Ishaq dari Yazid bin Yazid bin Jabir dari Mahul berkata: tidak dibagikan lebih banyak dari dua bagian enunggang kuda sedangkan pembagian yang keluar dari harta rampasan itu, Muhammad bin Sa’ib Kalbi berkatakepadaku tentang Abu Shaleh bin Abdullah bin Abbas, mengatakan bahwa pembagian itu pada waktu Rasulullah SAW menetapkan lima bagian: untuk Allah dan Rasul satu bagian, dan untuk kerabat dekat satu bagian, untuk anak-anak yatim dan orang miskin dan musafir tiga bagian. Kemudian membagi Abu Bakar, Umar dan Usman ra tiga saham, dan memotong saham Rasul dan saham kerabat dan membagikan tiga sisanya. Kemudian membagi kepada Ali bin Abi Thalib  seperti yang dibagikan pada Abu Bakar, Umar dan Usman RA. Diriwayatkan kepada kami dari Abdullah bin Abbas, ra dengan mereka, dia berkata: Umar bin Khathab menyampaikan kepada kami bahwa ia membagikan harta itu dan memutuskan bahwa itu untuk kami, maka bapak kami memberikannya kami dan bapak saya juga memberi kami.
Dia mengatakan: Muhammad bin Ishak Abu Ja’far menghabarkan kepadaku sambil mengatakan, saat aku berkata kepadanya: Apa pendapat  Ali tentang pembagian itu? Dia mengatakan: pendapatnya adalah pendapat tuan rumahnya, tapi dia benci yang bertentangan dengan Abu Bakar dan Umar.
Dia mengatakan: Mughirah telah mengatakan kepada kami dari Ibrahim tentang firman Allah, "sesungguhnya Allah telah membaginya," katanya, bagi Allah, segala sesuatu, dan dia mengatakan, "Allah" adalah kunci pembicaraan.
Dia mengatakan: telah menceritakan kepadaku dari Asy’at bin Abi Zubair dari Jabir bin Abdullah, ia membawa pembagian itu di jalan Allah dan memberinya wakil rakyat, ketika banyak harta yang  diberikan kepada anak yatim, orang miskin dan orang musafir.
Dia mengatakan: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishak dari Zuhri dari Sa’id bin Musayib dari Jubair bin Muth’im, bahwa Rasulullah SAW membagikan harta kepada sanak kerabat dari Bani Hasyim dan bani Muthalib.
Dia mengatakan: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdul Rahman bin Abi Layla dari ayahnya berkata: Aku mendengar Ali RA berkata: 'Wahai Rasulullah, aku melihat bahwa engkau memberikan hak kami pembagian itu maka bagikanlah dalam hidup engkau agar salah seorang sesudahmu tidak melepasnya kemudian lakukanlah. Ia mengatakan, kemudian melakukannya. Dia mengatakan: Rasulullah SAW membagikan dalam hidupnya, kemudian keluarga Abu Bakar ra membagikan untuk hidupnya,  kemudian Umar juga membagikan untuk hidupnya, bahkan jika itu adalah tahun terakhir dari usia Umar maka datanglah kepadanya harta yang banyak maka terpenuhilah hak kami, kemudian dikirim kepadaku seraya  mengatakan: Ambillah harta itu dan bagikanlah. Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin bersama kami  orang kaya dan kaum Muslimin yang membutuhkannya. Maka ia mengembalikan kepada mereka pada tahun itu dan tidak memanggil kami salah seorang sesudah Umar sampai saat ini. Abbas bin Abdul Muthalib menemuiku setelah saya meninggalkan Umar dengan dia, katanya:telah diharamkan untuk kami makanan sesuatu yang tidak pernah diberikan kepada kami hingga hari kiamat.
Mengatakan: telah berkata kepadaku Muhammad bin Ishak dari Zuhri mengatakan kepada Ibnu Abbas ra, dia bertanya kepadanya tentang saham bagi kerabat: siapa pun dia, dia adalah milik kami, dan bahwa Umar ra dengan dia mengajak kami untuk melindungi keluarga kami, dan mencukupi kebutuhannya , dan melayani keluarga . maka bapak kami memberikan kami dan juga bapak saya.
Dia mengatakan: telah menceritakan kepadaku Qais bin Muslim dari al-Hassan bin Muhammad bin Alhanif mengatakan: manusia berbeda pendapat setelah wafatnya Rasulullah SAW dalam hal dua bagian ini: Saham Nabi saw, dan bagian kerabat. Beberapa orang mengatakan: bagian Rasul untuk khalifah sesudahnya. Lainnya mengatakan: bagian kerabat untuk kerabat Nabi saw. Kelompok itu mengatakan: bagian kerabat itu untuk kerabat khalifah sesudahnya. Maka  kumpulkanlah untuk menjadikan dua bagian ini dari jenis harta benda pusaka dan senjata.
Dia mengatakan: menceritakan kepadaku Atha’ bin Sa’ib bahwa Umar bin Abdul Aziz mengirim bagian Rasul dan bagian kerabat untuk Bani Hasyim.
Abu Yusuf mengatakan, ketika Abu Hanifah dan banyak di antara fuqaha bahwa kami melihat khalifah membagikannya seperti yang dibagikan oleh Abu Bakar dan Umar dan Usman dan Ali r.a
Abu Yusuf mengatakan: Sesungguhnya pembagian harta rampasan perang ini adalah untuk kaum muslimin yang tidak syirik dan mereka tidak membawa barang pusaka, senjata dan sebagainya, serta semua yang mereka bawa seperti logam emas, perak, tembaga, besi, maka terjadilah pembagian itu di tanah Arab atau di tanah asing - dan membagikan di mana ia ditempatkan posisi sedekah. Dan apa saja yang dikeluarkan dari laut seperti perhiasan dan permata ditempatkan di posisi rampasan sebagaimana disebutkan dalam kitab suciNya, Allah berfirman: dan ketahuilah sesungguhnya engkau telah mendapatkan sesuatu dari harta rampasan perang dan sesungguhnya Allah telah membagikannya untuk Rasul, kerabat dekat, anak yatim dan orang miskin serta musafir.
Abu Yusuf mengatakan, apa yang diterima dari beberapa atau banyak pembagian  jika seorang membawa logam kurang dari berat dua ratus dirham perak, atau kurang dari berat dua puluh syikal emas, ini bukan termasuk zakat tetapi pada posisi rampasan dan tidak termasuk tanah/debu yang ada tetapi pembagian emas murni, dan perak murni, besi, tembaga, timbal, mereka tidak menghitung soal biaya, mungkin semua mengambil tunjangan sehingga tidak harus menerima pembagian dan pembagian itu sementara sedikit disaring agar tidak menjadi beban dari sesuatu seperti safir, merkuri, sulfur, tidak membagikan sedikit hal itu, tapi semua ini adalah seperti lumpur dan kotoran. Ia mengatakan, dan jika itu yang menghantam sedikit emas, perak, besi, timah atau tembaga itu  hal yang fatal tidak membatalkan pembagian dengan dia. Apakah kamu tidak melihat bahwa jika tentara mengambil rampasan perang dari musuh, maka  ahli agama tidak melihat agama atau tidak, bahkan jika agama mereka tidak mencegahnya dari pembagian itu. Dia mengatakan: bijih adalah emas dan perak, yang Allah menciptakan dari bumi yang diciptakan, yang juga pembagian itu, hal itu mengakibatkan sebuah harta benda seperti emas, atau perak, atau pakaian – pembagian itu dan empat-perlima kepadanya, itu sisanya mereka mengatakan, meskipun barang temuan perang ditemukan di Dar al-Islam dan telah merasa aman, itu tidak memiliki apa-apa dari dia, dan yang diambil darinya tebusan juga diambil untuk diberikan, dan menyerahkan empat bagian. Serta pejabat menemukan barang temuan di Dar al-Islam setelah dibagikan, serta budak dan ibu anak, jika barang temuan Muslim ditemukan di medan perang. Jika masuk tanpa pengamanan, ia tidak membagi pada saat itu dalam hal apa yang dia temukan adalah untuk manusia, perang atau tidak dalam kepemilikan membagikan untuk  manusia karena umat Islam tidak pelit atau kikir, tapi apabila ia masuk dengan aman dan menemukan barang maka barang itu  dalam kepemilikan sang pemilik, dan jika yang ia temukan adalah bukan milik orang lain maka itulah yang ia dapatkan.
Abu Yusuf mengatakan: Menceritakan kepadaku Abdullah bin Sa’id bin Abi Sa’id Maqbari dari kakeknya, dia berkata: Orang-orang jahiliyah telah rusak pikirannya, dan jika membunuhnya maka rusaklah akal pikirannya. Seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang hal itu, ia mengatakan: dalam pembagian harta temuan mengatakan kepadanya apa yang dimaksud harta temuan Wahai Rasulullah: emas dan perak, yang Allah menciptakan di Bumi dan Nabi bersih dari setiap harta rampasan: sedangkan penunggang kuda, dan yang membawa pedang, dan pejalan kaki pada perang Khaibar dalam pembagian itu memiliki bagian seperti bagian yang didapat istri-istri Nabi, dan ia berbagi dengan kaum Muslim. Bagiannya berada dalam perang Khaibar dengan bagian Asim bin Adi antara mereka adalah Rasulullah di mana Allah membuat untuk Rasul-Nya dari pembagian itu menjadi tiga : dalam pembagian murni dan berbagi dengan Muslim di empat perlima apa yang Allah bagikan, sedangkan pembagian pada perang Khaibar delapan belas bagian, setiap seratus bagian masing-masing pada pedang Badar.
Dia mengatakan:Telah menceritakan kepadaku As’as bin suwair dari Muhammad bin Suwair dari Muhammad bin sirrin dia berkata: Maka bagi Rasulullah mendapatkan harta rampasan pada waktu perang khaibar dan memberikannya kepada saifah binti khayyin.
Dia mengatakan: Menceritakan kepada ku Asy’as dari Abi Zainab dia berkata: Ketika perang badar ashim bin Munibah tidak membawa pedang.




Nalar Epistimologi Amin Abdullah (Jarring Laba-Laba) (materi kuliah ekonomi syariah)

Nalar Epistimologi Amin Abdullah (Jarring Laba-Laba)

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Islamic Wordview


Dosen Pengampu:
Dr. Aksin Wijaya




Description: STAIN%20WARNA

Disusun Oleh:
               Hanafi Hadi Susanto

PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2015









BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Amin Abdullah menegaskan bahwa persoalan utama saat ini adalah terkait dengan syarat dan cara untuk memperoleh pengetahuan. Karena tugas dari epistimologi sendiri adalah keluar dan terhindar dari keraguan, ketidak tahuan, bisa membedakan kepercyaan yang sehat dan tidak sehat, pengembangan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.
Amin ingin menggiring pembahasan epistimologinya dari pembahasan yang bertolak pada sebuah pertanyaan mendasar mungkinkah manusia mengetahui? Kepada epistimologi yang bertolah pada sebuah pertanyaan bagaimana manusia mengetahui?
Epistimologi menurut Amin terbagi menjadi tiga aliran yakni pertaa rasionalisme yng menjadi kapling keilmuan kalam dan filsafat, yang kedua kasf yang menjadi kapling keilmuan tasawuf dan yang ketiga adalah empirisme yang mempunyai sedikit penganut.
Sejalan dengan itu Amin mengusulkan agar kita menekankan empirisme dalam kajian epistimologi islam kontemporer, apalagi al-Qur’an juga membicarakan ayat-ayat yang bersifat umum. Menurut Amin kajian terhadap pesan-pesan spiritual dan moral al-Qur’an harus dikaji secara empiris-interdisipliner. Kajian terhadap pesan spiritual dan moral harus dikaitkan dengan ayat kauniyyah baik melalui ilmu kealaman, maupun humaniora. Kemudian Amin menwarkan pendekatan keilmuan yang bercorak integralistik-intierkonektif yang dikenal dengan istilah jarring laba-laba keilmuan. Berdasarkan hal ini maka makalah ini akan membahas mengenai Nalar Epistemologi Integrasi Jarring Laba-Laba Keilmuan menurut Amin Abdullah.
B.     Rumusan Masalah
1.      Siapa amin abdullah?
2.      Bagaimana Epistemologi Integrasi Jarring Laba-Laba Keilmuan Amin Abdullah?

C.    Tujuan Mempelajari
1.      Mengetahui dan memahami Siapa amin abdullah.
2.      Mengetahui dan memahami Bagaimana Epistemologi Integrasi Jarring Laba-Laba Keilmuan Amin Abdullah.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Mengenal Amin Abdullah
Nama: Amin Abdullah
Tempat, tanggal lahir: pati, 28 jili 1953
Riwayat pendidikan: dimulai dari Pondok Modern Gontor Ponorogo, di Kulliyat Al-Mualimin al-Islamiyah (KMI) (1972), sarjana muda di tempat yang sama (1977), sarjana lengkap di Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga (1982), Ph.D di Ankara turki (1985-1990)
Karya: falsafah Kalam Di Era Postmodernisme, Studi Agama: Nomativitas ataukah Historisitas, Dinamika Islam Cultural: Pemetaan atas Wacana Keislaman Kontemporer dan seterusnya.

B.     Nalar Epistemologi Integrasi Jarring Laba-Laba Keilmuan[1]
Anaisis Amin Abdullah dimulai dari mengkritik tradisi keilmuan islam yang dikembangkan pada lembaga pendidikan islam selama ini. Menurut Amin pendidikan saat ini menganut  paradigma dikotomis-atomistik.tradisi erfikir dikotomi-atomistik bukan hanya ilmu umum berhadapan dengan ilmu keislaman, tetapi melibatkan paradigma sesame kluster disiplin keilmuan islam dengan cara memisahkan bahkan mempertentangkan antara paradigma epistimologi bayani, irfani, dan burhani.
Pola berfikir dikotomi-atomistik yang berkembang selama ini menrut Amin akan menjadikan manusia terasing dari nilai-nilai spiritual-moralitas, terasing dari dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan dan sekitarnya. Selain itu menurut Amin pandangan dikotomi-atomistik dinilai sebagai keceakaan sejarah dan tidak sesuai dengan pandangan integralistik ilmu pengetahuan pada masa awal-awal islam.
Berdasarkan hal-hal diatas kemudian Amin mengusulkan paradigma  baru pengembangan epistimologi keilmuan islam kontemporer dengan cara mengintegrasikan kedua kategori keilmuan umum dan agama, meskipun sebenarnya upanya integrasi keilmuan telah banyak dilakukan pakar.
Integrasi ini menurut Amin tidak sekedar mencocokan, tetapi dibutuhkan kerjasama, saling tegur sapa, saling membutuhkan korelasi dan saing berhubungan antara disiplin keilmuan. Integrasi yang diusung mengambilbentuk kemudian memadukan antara keilmuan umum dan agama tanpa haarus menghilangkan keunikan antara masing-masing ilmu pengetahuan.
Sejalan dengan hal itu Amin juga menawarkan visi baru terkait dengan program reintegrasi apistimologi keilmuan dalam integrasi interkoneksi dimana Amin mengakui bahwa ia meneruskan konsep yang pernah diusung oleh Kuntowijoyo dan haberman (filosof barat). Visi baru Amin Abdullah diilusrasikan dalam sebuah bagan yang sering disebut dengan jarring laba-laba keilmuan teoantroposentris-integralistikdan skema keilmuan UIN Sunan Kalijaga: pendekatan integratif-disiplinary.
Dalam buku Satu Islam Ragam Epistimologi ini, dijelaskan bahwa Amin merangkum disiplin ilmu yang pernah dimiliki manusia dibawah payung jaring laba-labanya, dan didalamnya mencerminkan adanya integrasi interkoneksi antara masing-masing ilmu seperti ilmu-ilmu sosial, ilmu kealaman, dan humaniora dengan ilmu agama islam. Sehingga antara masing-masing ilmu saling berkesinambungan, tidak saling menolak atau saling memisahkan.
Dengan visi barunya itu Amin menilai perguruan tinggi agama (STAIN dan IAIN) berfokus pada lingkaran lapis 1, dan lapis ke 2 (kalam, falsafah, tasawuf, hadits, tarikh, fiqh, dst). Dengan adanya hal ini maka mengakibatkan batas atau jurang yang tidak bisa dijembatani oleh ilmu keislaman klasik dengan ilmu keislaman baru yang telah memanfaatkan memanfaatkan analisis ilmu-ilmu sosial dan humaniora kontemporer. Diantara tokoh yang memanfaatkan ilmu itu kedalam kajian islam adalah Muhammed Arkoun, muhammed abid al-jabiri, sayyed Husain nasr dll.
Amin mengakui bahwa seluh bangunan keilmuan agama islam masih encerminkan episteme klasik-skolastik yang dikotomi-atomistik lantaran hamper semua disusun dengan meminjam analisis arkoun. Karena hal itu iqbal menilai pemikiran islam hapir tidak bergerak selama 500 tahun.
Disisi lain Amin menolak filsafat ilmu barat, dengan alasan perdebatan, pergumulan dan perhatian epistimologi keilmuan barat terletk pada wilayah natural science, sebagian wilayah humanities, dan social science. Sedangkan Islamic studies dan ulumuddin khususnya syariah, akidah, tasawuf, ilmu al-qur’an, dan hadis terletak pada wilayah classical humanities.  Namun disaat ini telah terjaadi pergeseran paradigma metodologi studi sosial keislaman: dari studi yang terlepas dari konteks ke teks yang terkait dengan konteks. Melihat dua kondisi itui Amin menawarkan penggunaan epistimologo yang khas pemikiran islam yang dia pinjam dari jabiri, untuk melihat dan menggabungkan epistimologi islam ke depan, hal ini disebut dengan al-takwil al-ilmi.
Pendekatan al-takwil al-ilmi yang dijadikan model tafsir alternatif selain tafsir dan takwil yang umum digunakan para mufasir selama ini untuk menggunakan jalur lingkar hermeneutis yang mendialogkan antara paradigma epistimologi bayani, burhani dan irfani. Dalam pendekatan al-takwil al-ilmi Amin merumuskan tiga pola relasi, yakni pola relasi parallel, linier dan sirkuler.
Pola relasi paralel mengindikasikan bahwa masing-masing corak epistimologi berjalan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dan persentuhan antara yang satu dengan yang lainnya dalam diri ilmuwan, da’I maupun ulama. Pola relasi linier yaitu memnempatkan salah satu dari keduanya sebagai primadona sehingga mengakibatkan penilaian yang berat sebelah. Pola relasi sekuler yang ditawarkan oleh Amin yaitu mengharuskan masing-masing disiplin keilmuan untuk memahami keterbatasannya sendiri, sembari bersedia mengambil manfaat dari temuan yang ditawarkan, dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kekurangan yang melekat pada dirinya sendiri.
Dalam pendekatan al-takwil al-ilmi mengusulkan agar ketiganya saling mengontrol, mengkritik, memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan yang melekat dari masing-masing epistimologi
Proyek itegrasi-interkoneksi keilmuan Amin ini tidak sekedar menjadi sebuah wacana saja, namun juga sebagai penggagas yang sekaligus pemimpin perguruan tinggi yang akan beralih status menjadi UIN. Amin menyatakan momentum perubahan ini digunakan untuk memperbaiki dan menyembuhkan luka dikotomi keilmuan umum dan agama yang makin hari makin menyakitkan.
Oleh karena itu Amin menilai bahwa tidak boleh masing-masing fakultas menolak disiplin ilmu kealaman maupun humaniora untuk diajarkan dan dimasukkan ke dalam kurikulumnya. Dalam mengimplementasikan kurikulum dengan semangat reintegritas keilmuan Amin mempertimbangkan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut: peradaban teks (hadarah al-ilmi), yakni ilmu-ilmu empiris yang menghasilkan sains dan teknologi, dan peradaban filsafat.  Hadarah ilmi dibangun atas fondasi tata kerja nalar burhani, hadarah al-nash (fiqh) dibangun di atas otoritas teks dan otoritas salaf dengan qiyas sebagai metode kerja yang utama, sedangkan hadarah al-falsafah dibangun di atas koherensi argumen-argumen logika.
Karaena ketiganya harus berjalan bersama-sama maka Amin mengusulkan untuk mendesain mata kuliah dengan cara menghindari pifall dan jebakan keangkuhan disiplin ilmu yang merasa pasti dalam wilayahnya sendiri-sendiri.Amin kemudian mengusulkan menggunakan skema interkonektid.
Skema interkonektid memperlihatkan bahwa  Integrasi menurut Amin dimaknai dengan kerja sama, saling tegur sapa, saling membutuhkan, saling koreksi dan saling berhubungan antara berbagai disiplin ilmu dalam bentuk sirkuler, dan mengambil bentuk interkoneksi dalam konteks membangun hubungan antara berbagai disiplin ilmu baik umum maupun agama. Karena Amin melakukan interkoneksi antara ilmu agama dengan ilmu umum maka lahir epistimologi integrasi-interkoneksi.




BAB III
KESIMPULAN

Menurut Amin Abdullah semua ilmu itu tiidak dapat dipisahkan, karena masing-masing ilmu saling membutuhkan saling mengoresi dan saling berhubungan. Menurut Amin mememisahkan masing-masing ilmu adalah sebuah kecelakaan dan tidak sesuai dengan pandangan integralistik ilmu pengetahuan pada masa awal-awal islam.


DAFTAR PUSTAKA

Wijaya, Aksin. Satu Islam Ragam Epistimologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.




                [1]  Aksin Wijaya, Satu Islam Ragam Epistimologi (Yogyakarta, Pustaka Pelajar,)2014, 282.

Monday, October 10, 2016

pemikiran Rene Deskartes (makalah ekonomi syariah)

Pembahasan
A.      Rene Descartes ( 1596 – 1650 )

Descartes lahir pada tahun 1596 dan meninggal pada tahun 1650. Merupakan salah satu pendiri pemikiran modern. Ia belajar pada college selama 9 thun (1606-1615), selama 6 tahun sastra klasik, dan 3 tahun filsafat, logika, ilmu pasti-alam, dan metafisik. Filsafat itu lebih kurang berdasarkan karya-karya Aristoteles, tetapi terbuka bagi kebutuhan zaman.[1]
Menurut catatan, Descartes adalah orang Inggris. Ayahnya adalah anggota parlemen inggris. Pada tahun 1612 Descartes pergi ke Prancis. Dia taat mengerjakan ajaran agama Katholik, tetapi ia juga menganut Galileo yang pada waktu itu ditentang oleh tokoh – tokoh Gereja. Dari tahun 1629 - 1649 ia menetap di Belanda.  
Dari tahun 1615 sampai ke 1618 ia belajar terutama ilmu pasti-alam. Pada saat itu ketertarikan Descartes pada ilmu filsafat belum besar. Sejak 1618 ia selama 10 tahun banyak dalam perjalanan, tetapi ia sekaligus sibuk berkegiatan ilmiah, selalu berkutub ilmu eksakta dan filsafat. Tahun 1628 ia berangkat ke Nederland dan tinggal disana sampai tahun 1949. Ia mengarang tentang ilmu pasti-alam, metodologi dan filsafat. Tahun 1949-1950 ia berada di Swedia selama satu tahun, mengajar ratu Christina. Disana ia sakit radang paru-paru dan meninggal.[2]

B.       Metode Pemikiran ( Cogito Ergo Sum )

Salah satu filsuf yang menaruh perhatian sangat besar pada asumsi-asumsi yang mengusulkan suatu metode umum yang memilki kebenaran yang pasti. Filsuf asal Prancis ini dijuluki sebagai “Bapak Filsafat Modern”, karena beliau menempatkan akal pikiran atau rasio pada kedudukan yang tertingggi. Filsafat Descartes, terutama konsep tentang manusia bersifat dualisme. Beliau mengganggap jiwa (res cogitans) dan badan (res extensta) sebagai dua hal terpisah.
Bagi  Descartes ilmu alam tidak dapat dibangun tanpa menyusun metafisik terlebih dahulu, yang akan memberinya suatu dasar prinsipiil. Berdasarkan pemahaman itu, maka metafisik dan ilmu alam menjadi suatu pengertian yang utuh. Tetapi dalam seluruh pemikirannya, filsafat alam dan dunialah yang berkedudukan dominan. Descartes sendiri tidak begitu tertarik pada metafisik. Dibandingkan filsafat teknis sebelumnya.[3]
Descartes telah lama merasa tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban. Sangat lamban terutama bila dibandingkan dengan perkembamgan filsafat pada zaman sebelumnya. Ia melihat tokoh-tokoh Gereja yang mengatasnamakan  agama telah menyebabkan lambannya perkembangan itu. Ia ingin filsafat dikembalikan kepada semngat Yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal. Ia ingin menghidupkan kembali rasionalisme Yunani.[4]
Ia mengetahui bahwa tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh Gereja bahwa dasar filsafat haruslah rasio (akal). Tokoh-tokoh Gereja waktu itu  tetap yakin bahwa dasar filsafat haruslah iman. Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun argumentasi yang amat terkenal, argumentasi itu tertuang dalam metode cogito tersebut.[5]
Dengan metode, Descartes berusaha memahami  sebagai aturan-aturan yang dapat dipakaikan sebagai kepastian dasariah dan kebenaran yang kokoh ( fundamentum certum et incomcussum veritatis ). Berfilsafat bagi Descartes berarti melontarkan persoalan metafisis untuk menemukan sebuah fundamen yang pasti, yaitu suatu titik yang tidak bisa goyah dan terbantahkan.[6]
Descartes menyatakan bahwa kesangsian merupakan pembuktian kepada diri kita  bahwa kita ini nyata. Selama kita ini sangsi, kita akan merasa bahwa kita nyata-nyata ada. Meskipun dalam sebuah tipuan yang sangat lihai, sebuah kepastian “aku yang menyangsikan” itu tidak ada yang bisa membantah, maka kepastian eksistensiku dicapai dengan berpikir. Descartes kemudian mengatakan Je pense donc je suis atau cogito ergo sum ( aku berpikir, maka aku ada).[7]
Menurut Descartes, untuk memperoleh pengetahuan yang terang dan jelas maka terlebih dahulu kita harus meragukan segala sesuatu. Descartes menyatakan, “pengertian yang benar haruslah dapat menjamin dirinya sendiri”.  Untuk mendapatkan suatu pengetahuan yang tidak diragukan lagi kebenarannya Descartes menggariskan empat aturan.[8]
a.        Janganlah pernah menerima baik apa saja sebagai benar, jika anda tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kebenarannya. Cermat dan hindari kesimpulan – kesimpulan dan prakonsepsi yang terburu-buru. Dan janganlah memasukkan apapun kedalam pertimbangan anda lebih daripada yang terpapar yang begitu jelas, sehingga tidak diperlukan lagi.
b.      Pecahkanlah kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yang dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiiannya secara lebih baik.
c.       Arahkanlah pemikiran anda secara tertib mulai dari objek yang sederhana dan paling mudah di ketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit, tahap demi tahap kepengetahuan yang paling kompleks, dengan mengandaikan sesuatu urutan bahkan diantara objek yang sebelum itu tidak mempunyai ketertiban kodrati.
d.      Buatlah penomoran untuk seluruh pemasalahan  selengkap mungkin dan tinjau ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak ada satupun yang merasa tertinggal.
Keempat langkah yang dikemukakan descartes ini menggambarkan suatu sikap skeptis metodis dalam upaya memperoleh kebenaran yang pasti. Descartes mengaitkan aktifitas ilmiah dengan metode skeptis.[9]
Descartes menyatakan dalam metodenya bahwa “segala hal harus kita renungkan dan akhirnya bisa memunculkan kepatian dari hal itu. Sebab yang tinggal adalah “saya yang ragu-ragu”. Inilah kepastian pertama, “Saya ragu-ragu, karena saya berpikir”. Saya yang berpikir ini adalah kepastian kedua. Akhirnya, Cogito ergo sum ( saya berpikir, maka saya ada ). Semua ini disebutnya sebagai keraguan metodis ( dubium methodicum ). Pola berpikirnya deduktif atau mengambil kesimpulan mengenai realitas dari konsep-konsep”.[10]






[1] Anton Bakker, Metode - Metode Filsafat (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986), 68.
[2] Ibid.
[3] Ibid, 69.
[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003) 129.
[5] Ibid.
[6] Budi Hardiman, Filsafat Modern (Gramedia Pustaka Utama, 2007) 39.
[7] Budi, Filsafat Modern, 40.
[8] Rizal Muntasyir, Filsafat Analistik (Jogiakarta: Pustaka Pelajar, 2001), 28.
[9] Rizal Muntansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu ( Yogyakarta: pustaka ilmu, 2004), 110.

Wednesday, October 5, 2016

SUMBER PENGETAHUAN MENURUT PLATO DAN ARISTOTELES

SUMBER PENGETAHUAN
MENURUT PLATO DAN ARISTOTELES



PENDAHULUAN
Untuk menghentikan pemikiran sofis yang menganggap bahwa menganggp semua kebenaran itu relatif. Cara yang ditempuh oleh Socrates yaitu meyakinkan orang-orang Athena, terutama para filosof dan hakim sofis bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran yang umum yaitu kebenaran yang dapat diterima oleh semua orang.
Setelah orang dapat diyakinkan bahwa ada kebenaran umum, maka tidak terlalu sulit lagi mengajak orang kembali pada agamanya.  Akan tetapi pengajaran Socrates itu harus dibayarnya dengan harga yang amat mahal hukuman mati meminum racun. Akan tetapi pemikiran Socrates itu bekerja. Plato, murid dan sekaligus teman dan guru Socrates, memperkuat pendapat gurunya itu. Katanya, kebenaran umum memang ada, namanya idea. Idea itu telah ada sebelum manusia ada, ia ada di alam idea. Dengan ini pengertian umum Socrates diperkuat. Murid mereka yang satu lagi, yaitu Aristoteles, memperkuat pendapat guru-guruya itu. Ia menulis buku yang menelanjangi kepalsuan logika orang-orang sofis itu. Ia pun sependapat bahwa pengertian umum yang kebenaranya berlaku umum memeng ada, namanya definisi. Sampai di sini keadaan hegemoni berubah lagi: akal dan hati, rasio dan iman, filsafat dan agama sama-sama menang.[1] Dalam pemikiranya mengenai akal dan hati, Ia menyebutkan bahwa manusia itu adalah hewan yang berakal sehat, yang mengluarkan pendapatnya, yang  berbicara berdasarkan akal pikiranya, (the animal that reasons).[2]
Dari penjelasan diatas, untuk dapat mengethui lebih jelas mngenai kedua pemikiran filosof tersebut, untuk itu kami dari kelompok dua akan membahas mengenai pemikiran Plato dan Aristoteles. Yang didalam makalah ini akan kami bahas tentang biografi kedua tokoh, serta pemikiran-pemikiran filsafat dari Plato dan Aristoteles.
Dalam makalah ini penyusun menyadari masih banyak kesalahan ataupun kekeliruan, untuk itu kami mengharap kritik ataupun saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Kami berharap semoga dalam pembahasan makalah ini mengenai pemikiran Plato dan Aristoteles, dapat menambah pengetahuan bagi setiap mahasiswa. Dan bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.



PEMBAHASAN
A.  PLATO (347-427 S.M)
1.    Biografi
Plato dilahirkan di Athena pada tahun 427 SM dan menigal pada tahun 347 SM dalam usia 50 tahun. Ia berasal dari keluarga Aristokrasi yang turun temurun memegang peran penting dalam politik Athena. Sebenarnya Plato ingin menjadi olitikus namaun sejak kematian Socrates membuat ambisinya menjadi terpendam.
Sejak berumur 20 tahun, Plato mengikuti pelajaran Socrates. Pengaruh Socrates kian hari kian mendalam sehingga ia menjadi murid Socrates yang paling setia. Ajaran Socrates tergambar eluar melalui tulisan Plato, juga pandangan filosofisnya terkadang menyimpang jauh dan lebih luas dari pendapat gurunya. Sejak delapan tahun ia menjadi murid Socrates ia banyak berpergian sampai ke Italia dan Sicilia.[3]

2.    Ciri-ciri Karya Plato
a.       Bersifat Sokratik
Dalam Karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya
b.      Berbentuk dialog
Hampir semua karya Plato ditulis dalam nada dialog. Dalam Surat VII, Plato berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu. Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog.
c.       Adanya mite-mite
Plato menggunakan mite-mite untuk menjelaskan ajarannya yang abstrak dan adiduniawi.[4]

3.      Pemikiran Filsafat Tentang Idea
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita.. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada.[5]
Menurut Plato kebenaran umum itu bukan dibuat secara dialog yang induktif, tetapi pengertian umum itu sudah tersedia disana di alam idea. Idea itu umum, bearti berlaku untuk umum, menurut Plato ada kebenaran khusus yaitu kongkritisasi idea di alam ini. Plato yang mempunyi nama asli Aristocles ini berusaha untuk mengadakan penyelesaian antara Herakletos dan Permendies yaitu yang berubah dan yang tetap bergerak.[6] Bagi Plato realitas itu memiliki dua kenyataan ada yang berubah dan ada yang tetap. Yang berubah tertangkap oleh inderawi sedangkan yang tetap tertangkap oleh pikiran. Logos sebagaimana dikemukaka Heraclitos, mnjadi sebab perubahan terus-menerus, serta yang mengatur dan menyatukan segala keberubahan.[7]
Menurut Plato yang tetap dan tidak berubah atau kekal oleh Plato disebut “idea”. Bagi Plato idea buanlah sekedar gagasan yang hanya terdapat dalam pikiran saja (subjektif), namun idea itu bersifat obyektif, artinya idea itu berdiri sendiri, terlepas dari subjek yang berfikir. Idelah yang memimpin pikiran manusia. Tiap orang pasti memiliki ide yang berbeda. Tidak ada dua orang sama persis pemikiranya walaupun keduanya manusia, karena setiap manusia mendapat bagian dari ide. Seiap manusia mengungkapkan idenya dengan cara masin-masing karena idea manusia bersifat umum.[8]
Keadaan idea sendiri bertingkat-tingkat, yaitu:
a.    tingkat idea tertinggi adalah idea kebaikan,
b.    dibawahnya idea jiwa dunia,
c.    berikutnya idea keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, politik.[9]
Plato dengan ajaran idea yang lepas dari objek, yang berada di ala idea, bukan hasil abstraksi seperti pada Socrates, jelas memperkuat posisi Scrates dalam menghadapi sofisme. Idea itu umum, berarti berlaku umum. Sama dengan gurunya itu, Plato juga berpendapat bahwa selain kebnaran yang umum itu ada kebenaran yang khusus yaitu “kongkritisasi” idea di alam ini.[10]
Definisi menurut Plato berbeda dengan definisi seperti diberikan Aristoteles. Sifat-sifat yang disebut kerap hanya aksidentil. Definisi Plato lebih berupa klasifikasi, bersifat praktis dan konkrit. Namun latar belakangnya lebih bersifat idealis sebab dengan jalan definisi itu dicari bagi hal yang harus dirumuskan, mana kala tempatnya diantara hierarki idea-idea.[11]
Dengan demikian jelaslah bahwa kebenaran umum itu memang sudah ada, bukan dibuat mlainkan sudah ada didalam idea. Manusia dulu berada didunia idea bersama-ama bersama idea-idea lainya dan mengenalinya. Manusia didunia nyata ini jiwanya terkurung oleh tubuh sehingga kurang ingat lagi hal-hal yang dulu pernah dikenalinya didunia idea. Dengan kata lain pengertian manusia yang membentuk pengetahuan tidak lain adalah dari ingatan apa yang pernah dikenalinya atau mengerti karena ingat.[12]

Hal yang penting juga untuk diketahui dari filafat Plato adalah pemikiran dia tentang negara. Menurutnya bahwa dalam tiap-tiap negara segala golongan dan segala orang-orang adalah alat semata-mata untuk kesejahteraan semuanya. Kesejahteraan semuanya itulah yang menjadi tujuan yang sebenarnya. Dan itu pulalah yang menentukan nilai pembagian pekerjaan. Dalam negara yang ideal itu golongn pengusaha menghasilkan, tetapi tidak memerintah. Golongan penjaga memperlindungi, tetapi tidak memerintah. Golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi, dan mereka memerintah.[13] Menurut Plato pendidikan anak-anak di umur 10 tahun ke atas menjadi urusan Negara. Plato mengatakan bahwa suatu bangsa tidak akan kuat, kalau ia tidak percaya pada Tuhan. Seni yang memurnikan jiwa dan persaan tertuju kepada yang baik dan yang indah, diutaakan mengajarkannya. Menurut penduduk negara dapat dibagi tiga golongan yaitu, golongan teratas, tengah dan bawah. Golongan teratas adalah golongan yang memeintah terdiri dari para filosof. Mereka bertujuan membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanannya dan mereka memegang kekuatan tetinggi. Golongan menengah adalah para pengawal dan abdi negara. Tugas mereka adalah mempertahankan negara dari serangan musuh dan menegakkan berlakunya undang-undang supaya dipatuhi semua rakyat. Dan golongan ketiga adalah golongan terbawah atau rakyat pada umumnya. Mereka adalah kelompok produktif yang harus pandai membawa diri.[14] Menurut Plato supaya Negara aman, tenteram, makmur maka pembagian tugas dan wewenang harus sesuai degan golongan masing-masing.[15]
Jiwa merupakan faktor yang sangat penting yang masih diperlukan untuk membuat karya metafisis, dan Plato memberi tempat yang tinggi pada konsep ini. Jiwa merupakan prinsip gerakan, jiwa menggerakkan dirinya sendiri. Namun dalam dirinya sendiri jiwa itu merupakan sumber gerakan karena jiwa itu merupakan prinsip gerakan, jiwamelibatkan eksistensinya sendiri, dan ini berarti bahwa bentuk platonik itu memiliki status ada abadi dengan sesuatu yang saa sekali berbeda dirinya sendiri yakni jiwa.[16]
B.       ARISTOTELES (384-322 S.M)
1.    Biografi
Aristoteles adalah murid dan juga teman serta guru Plato, adalah orang yang mendapat pendidikan yang baik sebelum menjadi filosof. Keluarganya adalah orang-orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Sifat berfikir saintifik ini besar pengaruhnya pada Aristoteles. Oleh karena itu, kita menyaksikan fisafat Aristoteles berbeda warna dengan filsafat Plato yang bersifat sistematis, amat dipengaruhi oleh metode empiris.[17]
Aristoteles lahir 384 S.M di Stageria, sebuah kota koloni Yunani di semenanjung Chalcidice yang berada di wilayah Mechedonia, sebelah utara Yunani. Ayahnya Nichomacus adalah sahabat dan dokter keluarga Amyntas 11, Raja Macedonia, ayah Raja Philihpos dan kakek Alexandros yang agung.[18]
Filusuf piawai kelahiran Stageria ini termasuk salah seorang cucu murid Socrates yang paling jenius dalam bidanb filsafat. Ia telah banyak menulis karya filsafat, salah satu diantaranya sekian banyak karyanya  adalah Organon, karya ini merupakan sumbangan paling berharga dibidang MAB. Karya tersebut berisikan aturan pikir yang sekarang lebih bikenal dengan istilah logika.[19]

2.        Karya Aristoteles
Salah satu karya Aristoteles yang paling menonjol adalah penelitin ilmiah. Ketika ia merantau ke sekitar pantai Asia kecil, ia mulai mulai melakukan penelitian mengenai zoologi, biologi, dan botani. Aristoteles juga mengadakan penelitian konstitusi dan sistem politik. Ia mampu meletakkan dasar bagi suatu cabang ilmu politikyang disebut perbandingan pemerintahan dan politik.
Mengenai karya tulis Aristoteles, menurut para cendekiawan di zaman purba, jumlahnya mencapai lebih dari empat ratus buku yang dianggap buah jerih payahnya, namun sebagian besar telah hilang. Dari sekitar lima buah buku yang masih ada, hana separuhnya ang benar-benar hasil karya Aristoteles. W.D Ross membagi karya Aristoteles dalam tiga bidang utama yaitu,


a.    Karya tulis yang bersifat populer
Karya tersebut sangat terkenal yang berjudul Protrepticus yang isinya merupakan nasehat dan ajakan untuk belajar filsafat.
b.      Kumpulan data ilmiah
Hampir semua karya tulis hasil penelitian Aristoteles hilang, kecuali Hi storiu Animulium (pengetahuan tentang binatang)
c.       Bahan kuliah
Karya tulis inilah yang masih terpelihara hingga kini, namun orientasinya mengandung perdebatan yang sangat ramai di kalanan masyarakat.[20]

3.        Pemikiran Filsafat
Perbedaan yang paling mendasar antara filsafat Plato dan Aristoteles sesungguhnya terletak pada pandanagn mereka tentang ada dan keberadaan ada. Hal itu jelas terlihat dalam pandangan mereka terhadap dunian ini. Bagi Plato ada dua dunia yang terpisah satu sama lainnya yaitu dunia indrawi yng tampakdan senantiasa berubah dan tidak abadi, oleh sebab itu tidak sempurna dan dunia ide yang tidak berubah, abadi dan sempurna, dimana kebijakan dan kebaikan merupakan ide tertinggi.[21]
Di dalam dunia filsafat Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika. Logikanya disebut tradisional karena nantinya berkembang apa ang disebut logika modern. Logika Aristoteles itu sring juga disebut Loika Formal. Bila orang-orang sofis banyak menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, Aristoteles dalam Metaphysics menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran.[22]
Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarkhi. Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti fisika, astronomi, biologi, psikologi, metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori
retorika dan puisi.[23]
Tuhan itu menurut Aristoteles berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan dengan alam ini. Ia bukan pesona. Ia tidak memperhatikan do’a dan keinginan manusia. Dalam mencintai Tuhan, kita tidak perlu mengharap Ia mencintai kita. Ia adalah kesempurnaan tertinggi, dan kita mencontoh kesana untuk perbuatan dan pikiran-pikiran kita. Tuhan dicapai dengan akal tetapi ia percaya pada Tuhan.[24] Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles selesai menggelarkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasioanl itu masih digunakan selama beberapa abad sesudah Aristoteles, seblum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam abad pertengahan. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik ketika itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya menadi pecahan-pecahan kecil imperium besar yang dibangun oleh Alexander. Sebelum abad pertengahan kita melalui pemikiran Helenis.[25]
Menurut Aristoteles, ada dua cara dalam menark kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan baru. Pertama disebut apoditktik atau deduksi, yaitu cara menarik konklusi berdasarkan dua kebenaran yang pasti dan tidak diragukan dan bertolak dari yang bersifat universal ke khusus. Silogisme sebagai suatu prosedur penalaran untuk memperoleh konklusi yang benar berdasarkan premis yang benar adalah suatu bentuk formal dari apodiktik atau deduksi. Kedua, epagoki atau induksi, yaitu cara menarik satu konklusi yang bersifat umum dari al-hal yang khusus. Menurut Aristoteles deduksi adalah cara yang terbaik untuk menarik suatu kesimpulan untuk memperoleh suatu pengetahuan baru. Oleh sebab itu di dalam logika, Aristoteles tidak begitu memberi tempat bagi induksi.[26]




PENUTUP
Kesimpulan
            Dari beberapa penjelasan di pembahasan makalah ini dapat difahami bahwa Aristoteles adalah salah sato filosof yang produktif dalam melahirkan karya-karya dalam bidang filsafat, walaupun para ahlu masih kesulitan dalam menyusun hasil karyanya karena karya Aristoteles yang terpisah-pisah. Walaupun demikian dapat ditarik garis pemikiran Aristoteles dalam tiga masa. Pertama, masa Aristoteles benar-benar menganut filsafat Plato. Kedua,  masa pengembangan dimana perkembangan pmikiran filsafat Aristoteles mulai memasuki tahap pembalikan yng semakin lama semakin jauh dari filsafat Plato. Ketiga,  masa penelitian empiris yang menghasilkan karya ilmiah yang mengagumkan diantaranya biologo, metafisika, fisika, meteorologi dan lain-lain.   




DAFTAR PUSTAKA

Mustansir, Rizal, Filsafat Analitik, cet 8, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001.
Saifudin, Ashari Endang, Ilmu Filsafat dan Agama, cet 7, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1987.
Sholihin, M, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik Hingga Moderen, Bandung:  CV Pustaka Setia, 2007.
Sontag, Frederick, Pengantar  Metafisika, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2002.
Syadali, Ahmad, Mudzakir, Filsafat Umum, Bandung: CV Pustaka Setia, 1997.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, cet 4, Bandung: Remaja Rosda Karya Offset, 1990.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, cet 8, Bandung: Remaja Rosda Karya Offset, 2000.
Q- Anis, Bambang, Hambali, Radea Juli A, Filsafat Untuk Umum, Jakarta: Perdana Media,  2003.
Waris, Filsafat Umum, Ponorogo: STAIN Po Press, 2009.
                                    , Metode-Metode Filsafat, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986.
http://filsafat.kompasiana.com/2012/04/13/pola-pemikiran-socrates-plato-dan-aristoteles-454235.html





[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, cet 8, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2000), 63-64.
[2] Endang Saifuddin Ashari, Ilmu Filsafat dan Agama(S     urabaya: PT Bina Ilmu, 1987), 5.
[3] Ahmad, Perkembangan Pemikiran Filsafat  dari Klasik Hingga Moderen, 82.
[4] http://filsafat.kompasiana.com/2012/04/13/pola-pemikiran-socrates-plato-dan-aristoteles-454235.html
[5] http://filsafat.kompasiana.com/2012/04/13/pola-pemikiran-socrates-plato-dan-aristoteles-454235.html
[6] Waris, Filsafat Umum, (Ponorogo : STAIN PO PRESS, 2009), 27-28.
[7] Bambang Q-Anees, Radea Juli A. Hambali, Filsafat untuk umum (Jakarta : Prenada Media, 2003), 178.
[8] Solihin, Perkebangan Pemikiran Filsafat Dari Klasik Hingga Modern, 84.
[9] Waris, Filsafat Umum, 29.
[10] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum cet.8 (Bandung : PT Remaja Rusdakarya, 2000), 59.
[11]                                                 , Metode-Metode Filsafat (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986), 37.
[12] Ahmad Syadali Mudzakir, Filsafat Umum (Bandung : CV Pustaka Setia, 1997), 70.
[13] Ibid., 71.
[14] Ahmad Mudzakir, Filsafat Umum, 72.
[15] Waris, Filsafat Umum, 28.
[16] Frederick Sontag, Pengantar Metafisika (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2001), 57.
[17] Ahmad,  Filsafat Umum, 60.
[18] Solihin, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik Hingga Modern, 87.
[19] Rizal Mustansyir, Filsafat Analitik (Yogyakarta : Pustaka Peajar Offset, 2001), 25.
[20] Silihin, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik Hingga Modren, 90.
[21] Ibid., 93.
[22] Ahmad, Mudzakir, Filsafat Umum, 72-73.
[23] http://filsafat.kompasiana.com/2012/04/13/pola-pemikiran-socrates-plato-dan-aristoteles-454235.html
[24] Ahmad, Filsafat Umum, 61.
[25] Ahmad Tafsir, Flsafat Umum, cet.1 (Bandung : Remaja Rusdakarya Offset, 1990), 51.
[26] Solihin, Pengantar Pemikiran Filsafat dari Klasik Hngga Modern, 98.